Pesona Raja Ampat,


Inilah kecantikan Raja Ampat yang mulai termasyhur itu. Terdiri dari 1500 pulau dan atoll, serta empat pulau besar, Raja Ampat menyimpan terumbu karang terlengkap di dunia. Belum lagi perairannya. Dengan air sebening kaca, dari tebing dengan ketinggian 100 meter, ikan-ikan di bawahnya pun bisa terlihat jelas.

Raja Ampat pun menjadi rumah bagi berbagai spesies burung cendrawasih, maleo, nuri, kakatua serta beragam anggrek. 

Menyelam adalah aktivitas favorit bagi mereka yang pergi menuju taman laut terbesar di Indonesia ini. Lihatlah foto-foto keindahan Raja Ampat di bawah ini:






 










 

Ribetnya persiapan ke Raja Ampat

Kapal LOB

Saya sudah lama tahu kalau Raja Ampat itu bagus, tapi kok ya jauh dan mahal. Masalahnya, supaya efektif dan efisien keliling di Raja Ampat, kudu naik kapal LOB (live on board alias “tinggal di dalam kapal”) sekaligus divingkarena di sana konon merupakan tempat terbaik di dunia. Padahal saya adalah seorang diver yang biasa-biasa saja – meski jumlah logsaya ratusan, tapi saya lebih suka disebut traveler daripada diver, sehingga pergi ke Raja Ampat selalu menjadi prioritas terakhir dari segala rencana perjalanan. Padahal bagi para diver serius, pergi ke Raja Ampat itu bagaikan “naik haji”, sama sakralnya seperti orang yang doyan naik gunung ke Everest.

Saya tetep nggak kebayang LOB seminggu kerjaannya cuman diving dandiving doang. Haduh, malasnya! Saya tuh diving hanya sebagai bonus daritraveling ke suatu tempat. Seumur hidup ikut dive trip bareng para diver(serius) cuma dua kali, itu pun dalam sehari pasti ada yang saya skip demi belain berenang doang di laut atau bahkan tidur di kapal. Sebenarnya dari dulu saya sudah beberapa kali diajak ke Raja Ampat, tapi selalu nggak merasa sreg dengan kumpulannya. Abisan yang ngajak kok ya hard core divers gitu? Kebayang pagi-pagi bangun trus diving, sarapan, diving, makan, diving, istirahat, diving lagi. Hiyy! Topik pembicaraan pas surface interval apalagi kalau bukan ngomongin ikan ini, ikan itu, gadget diving, atau bahas teknik diving yang harus begini begitu. Mana gosipnya?

Belum lagi sekapal LOB itu kan isinya belasan orang, belum termasuk ABK/kru kapal. Kalau orangnya nggak asik, gimana caranya “menyelematkan diri” sementara di kapal bakal ketemunya 4L (Lu Lagi Lu Lagi). Kalo bete, nggak bisa ngumpet. Kalo berantem, masa cebur-ceburan? Saya jadi terbayang mati gaya di kapal dari Lombok ke Komodo, berantem sama bule ABG di kapal Turki, atau berebutan makanan sama tamu lain di kapal Halong Bay. Kebetean itu ditambah waktu yang tambah lama, yaitu total seminggu di LOB! Wadaw!

Pada suatu malam di Januari 2011, tiba-tiba aja pembicaraan Raja Ampat keluar lagi di antara saya, Yasmin, Jana dan King Kong. Jawaban untuk keresahan saya di atas adalah “sewa kapal aja sendiri dan ajakin temen-temen sendiri yang doyannya leyeh-leyeh”. Hmm, benar juga. Lalu kami mensyaratkan bahwa isinya harus teman sendiri (mutual friends), punya sertifikat diving tapi bukan hard core diver, umur di atas 30an, kalau bisa sesama jomblo, punya duit, dan punya komitmen libur kantor seminggu di tahun berikutnya. Dari lima syarat itu dibuatlah daftar orang yang akan diundang. Eh makin dipersulit lagi dengan faktor kecocokan satu sama lain. Maka diskusi pun berlanjut sampai pagi ditambah dengan gosipan tentang ketidakcocokan si ini dan itu. Pokoknya kami berempat sepakat untuk berkomitmen dan hanya karena alasan hamil baru boleh batal. *siapa juga yang mau menghamili :p*

Sebulan kemudian, tiba-tiba si Jana dan King Kong telepon bahwa mereka sedang berada di sebuah pameran diving dan harus segera booking kapal untuk ke Raja Ampat karena pas lagi ada slot di tahun baru 2012 dan pas ada diskon. Jana kekeuh milih kapal perusahaan Indonesia Raya yang terbagus dan tentunya termahal karena, “Biar nyaman kita, bo, wis tuegini… daripada kapal yang lainnya sempit dan tidurnya umplek-umplekan gitu di bunk bed.” Ya apa boleh buat, ditodong begitu saya ngikut aja. Masalah selanjutnya adalah gimana caranya ngumpulin DP (down payment) dalam waktu 2 hari dari semua peserta yang mereka juga belum dikabari?

Jadi, sewa kapal LOB bernama MV Raja Ampat Explorer selama seminggu (7 hari/6 malam) full board tanggal 27 Desember 2011 – 2 Januari 2012 (booking setahun!) itu harganya hampir Rp 200 juta yang pembayarannya dibagi rata oleh 14 peserta! DP Rp 2,9 juta dibayar dalam waktu 2 hari. Langsung deh saya kirim email ke teman-teman daftar prioritas utama. Dari semua yang terkirim, yang commit baru 7 orang. Ha, kurang 7 orang lagi! Jadilah saya sebar email lagi dan akhirnya memperbolehkan orang yang mau ajak temennya asal lolos interview mengenai bagaimana orangnya. Sisanya DP ditalangi dulu sama Jana sembari kami semua mencari orang. Ribet ye kite?

Gebleknya, beberapa bulan kemudian, si Jana dan King Kong tiba-tiba bail out alias mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas! Lah, orangnya kurang lagi! Saya pun ngambek dan minta mereka yang cari sendiri entah dari mana tapi orangnya harus asik. Daftar peserta pun semakin mendekati pembayaran terakhir di bulan September malah ganti-ganti nggak jelas. Akhirnya diperbolehkan pula teman bawa teman, asal asik. Yah, daripada nombok. Saya dan Nina didaulat jadi karom (kepala rombongan) menggantikan King Kong. Kami pun merencanakan rute yang terserah mau ke mana yang penting nyampe ke Wayag dan harus ada acara berhenti di pantai-pantai untuk leyeh-leyeh.

Alhasil isinya adalah saya, Yasmin, Nina, Rini + 3 teman kantornya, Eli + 3 teman kantornya, plus 3 orang yang kita semua nggak kenal hasil dari pencarian si pengkhianat. Seminggu sebelum deadline pembayaran, tiba-tiba 3 orang batal sehingga 2 orang digantikan sepupu saya, Ezra + temannya + 1 teman Eli. Ih, ribet ya? Nggak apa-apa deh, yang pentingmutual friends-nya lebih banyak jadi tetap mayoritas dibanding status “temannya teman”. Masalah selanjutnya adalah pembagian kamar! Dengan jumlah genap 6 cewek + 8 cowok di dalam 7 kamar ternyata ada beberapacouple juga yang nggak mau terpisahkan. Supaya cepat, 2 kamar terbaik di kapal adalah milik karom – tinggal nanti antara salah satu dari saya, Nina dan Yasmin yang harus bersedia tidur dengan cowok nggak kenal. Sampai-sampai saya dikirimi King Kong foto-foto cowok 2 orang nggak kenal itu dengan harapan saya lah yang melunak.

Belum selesai sampai di situ. Sudah jauh dan mahal sampai Papua, masa kita nggak explore tempat lain? Secara cuma saya dan Nina yang bukan anak kantoran, maka kami merencanakan trip traveling di Papua setelahnya. Yasmin pun bersedia resign dari kantornya demi nambah 2 minggu jalan-jalan di Papua. Mau ke mana? Beberapa kali kami ketemuan untuk membahas tetap tidak ada kepastian. Kami baru sadar Papua itu luasnya luar biasa dengan akses serba nggak jelas dan nggak bisa di-google. Intinya, liat aja ntar gimana. Punya tiket pergi dulu ke Sorong, pulangnya ntar baru dipikirin.

26 Desember 2011 kami berangkat dari Jakarta dengan menitip pesan ke ibu masing-masing, “Kami pergi ke Papua, seminggu LOB, lalu 2 minggu jalan-jalan entah ke mana, diperkirakan pulang pertengahan Januari, dan.. nggak bisa dihubungi karena nggak ada sinyal.”

LOB Raja Ampat: Diving bersama bebek kena potas

Pose sama ikan (pic by Juni)

Pagi itu kami semua diantar ke kapal LOB (live on board) yang bernama MV Raja Ampat Explorer. Wah, ternyata kapalnya jauh lebih bagus dari ekspektasi saya! Masuk dari bagian belakang kapal phinisi ini, ada ruang peralatan diving. Jalan ke depan ada lounge ber-AC berisi meja makan, sofa, TV, meja kerja, kulkas, perpustakaan kecil. Bagian belakangnya ada dapur besar dan ruang ABK. Di lantai bawahnya berjajar 5 kamar yang masing-masing berisi 2 tempat tidur single, AC, meja, lemari, serta kamar mandi lengkap dengan shower air panas, wastafel, dan toilet. Di atas lounge, ada deck terbuka tempat leyeh-leyeh di kursi pantai. Di belakangnya ruang kemudi kapten dan 2 kamar suite jatah karom (kepala rombongan). Sekamar diisi Nina dan Yasmin, lalu di sebelahnya ditempati saya dan Eli. Yep, saya berhasil menggeret Eli jadi teman sekamar, daripada saya tidur sama cowok nggak kenal itu.

Acara pertama adalah perkenalan sesama peserta, meski saya sudah kenal hampir semua orang sebelumnya. Nina dan Yasmin mah sahabat saya puluhan tahun. Rini adalah teman sesama penulis di Bentang. Juni teman sekantornya Rini. Ezra sepupu saya. Ken teman SMA-nya Ezra. Eli adalah teman lama yang pernah bareng ke Israel, dan 4 orang lagi adalah teman-teman kantornya. Rupanya 2 orang cowok tak dikenal itu adalah Panda dan Tato’ yang merupakan diver paling serius sekaligus underwater photographer. Di kapal ini juga diperkenalkan 10 orang ABK, termasuk 2 orang DM (Dive Master) bernama Om Joni dan Kris. Wew, rasio tamu banding kru hampir satu banding satu – jadi berasa Onasis!

Sore itu adalah dive pertama kali yang disebut check dive alias ngetes kemampuan diving para peserta untuk pembagian grup. Jreeeng, Om Joni langsung stres melihat hasil tes! Inilah akibatnya merekrut peserta dengan syarat “bukan hard core divers” – sebagian besar dari kami adalah diverpemula, bahkan beberapa orang baru aja punya license. Sejak itulah setiapbriefing sebelum diving, Om Joni selalu berpesan, “Diving yang benar! Jangan kayak bebek kena potas!” Huehehe! Tapi saya baru menyadari apa artinya ketika saya lagi asik-asiknya diving, tiba-tiba ada segerombolandiver di bawah saya yang lewat sambil berenang gubrak-gubruk denganbuoyancy turun-naik dan fins mereka menabrak-nabrak karang. Aduh! Lalu saya mendengar suara “Hm! Hm! Argh! Argh!” yang ternyata adalah Om Joni yang “berteriak-teriak” di dalam air dengan mata melotot dan menunjuk-nunjuk sesuatu. Oalah, rupanya diver-diver itu adalah teman sekapal sendiri yang gerakannya persis seperti bebek kena potas! *tutup mata*

Namanya juga kapal LOB Diving, jadi setiap hari aktivitas utamanya adalahdiving. Bangun jam 6.30 pagi, sarapan ringan, diving, sarapan berat, diving, makan siang, tidur siang, diving, mandi, makan malam. Setiap mulai satu kegiatan, bel klenengan berbunyi. Awalnya males juga sih, kok berasa kayak kambing dipelihara, dikasih makan, dan disuruh kerja. Tapi karena ingat sudah bayar mahal, jadi semangat. “Untung”-nya, makin hari jumlahdiver makin berkurang. Cewek-cewek pada haid jadi males nyebur, ditambah Eli kena flu dan Rini mencret. Sebagian cowok pun memilih untuk leyeh-leyeh. Akhirnya tinggallah Panda dan Tato’, plus saya dan Juni yang dipimpin Om Joni. Kalau ada peserta lain yang mau diving, disatukan di grup lain dipimpin Kris. Ternyata diving dengan grup kecil dan bersama diverberpengalaman, saya baru merasa enjoy.

Saya berkesimpulan bahwa Raja Ampat is not for beginner divers. Tidak ada satu dive site pun yang tidak berarus. Mending kalau arus pelan dan cuma satu arah, ini kadang super kencang dan berbalik arah! Hampir setiapdive, kami diwajibkan untuk negative entry alias turun gaya back roll dari kapal dan langsung turun sampai ke dasar laut sebelum tersapu arus atas. Kalau bermasalah dengan ekualisasi atau nggak kuat berenang, bisa-bisa tertinggal sama teman-teman yang lain. Dengan rasio DM dan diver yang tidak ideal karena 1 DM bisa membawa 7 diver, jadi jangan berharap bisa diperhatikan secara eksklusif oleh DM. Belum lagi udara di tabung yang tingkat konsumsi tiap orang berbeda, jadi kita harus bisa naik ke permukaan sendiri dengan aman dengan memperhitungkan sisa udara, waktu, kedalaman, dan safety stop. Intinya, setiap diver harus bisa menyelamatkan diri masing-masing!

Semua “usaha keras” itu memang terbayar dengan pemandangan alam bawah laut yang spektakuler. Menurut penelitian Conservation International, Raja Ampat memiliki keanekaragaman terumbu karang dan jenis ikan terbanyak di dunia. Bayangkan saja, ada 1.309 spesies ikan, 537 spesies terumbu karang dan 699 spesies moluska – semuanya dalam keadaan sehat. Artinya, sekali nyebur pemandangannya sangat beragam, bahkan cenderung sibuk kayak di pasar. Hukumnya, banyak arus berarti banyak ikan. Dan karena banyak mengandung plankton plus cuaca mendung, visibility sih tidak begitu baik, rata-rata 10 meter saja. Namun itu pun sudah cukup untuk bikin berdecak kagum.

Landscape bawah laut Raja Ampat berupa wallslope, gua – semuanya rapat ditumbuhi terumbu karang yang sangat beragam. Dalam satu area aja bisa melihat karang yang bentuknya meja, otak, kol, bunga, kipas, pilar, dan sebagainya. Belum lagi soft corals yang leather, yang mirip bunga, putri malu, pohon, dengan warna ngejreng. Kerangnya aja bisa berwarna turquoise dan fuchsia. Secara mata saya bolor, tapi karena barengan fotografer, saya jadi bisa lihat mahkluk macro, sepertinudibranch, flatworms dan pygmy seahorse dengan jenis-jenis yang saya juga baru pertama kali lihat.

Ikan warna-warni beraneka ragam lewat-lewat dan hampir selalu schooling(bergerombolan dengan sejenisnya). Kalau jackfishatau fusiliers sih biasa, tapi yang baru pertama kali saya lihat adalahschooling ikan barakuda ekor kuningRaja Ampat juga terkenal dengan adanya Wobbegong atau disebut carpet sharkkarena jenis hiu ini memang mirip karpet yang pinggirnya dedel dowel dan doyannya nyusruk di pasir. Hiu jenis blacktip dan penyu terlihat beberapa kali lewat. Tapi favorit saya adalah melihat Manta Ray atau ikan pari raksasa. Dengan hanya tiduran di pasir, 7 ekor Manta sepanjang 3 meter bolak-balik lewat sambil mengepakkan sayapnya. Di spot bernama Blue Magic malah nemu jenis Manta yang berbeda, yang ini bentuknya gemuk menggemaskan. Bahkan saat safety stop di kedalaman 5 meter tanpa ada pemandangan apa-apa yang sejajar, eh 3 ekor Manta menghampiri saya dengan cueknya. Aww!

Sebalnya diving di Raja Ampat cuma satu, yaitu saat menyadari bahwa udara hampir habis. Duh, seandainya manusia bisa hybrid dengan punya insang, pasti saya nggak mau naik ke permukaan! Eh, nggak juga ding. Ternyata trip seminggu di kapal LOB ini tambah menyenangkan lagi pada saat tidak diving..

LOB Raja Ampat (2): Main, pesta, dan nyebur!

Posted on January 30th, 2012

Wayag

Jadi bagaimana menghabiskan waktu seminggu di atas kapal LOB (live on board)?

Paling penting (bagi saya) adalah makan. Kami pikir makanan yang disediakan di kapal bakal ikan melulu, maka kami semua membawa stok makanan masing-masing. Ternyata Ibu Surya, chef kapal, menyiapkan makanan yang super duper enak dengan menu komplit!  Tidak hanya ikan segar, tapi ada sup, salad, ayam, sapi, tahu, tempe, sayuran, kerupuk, buah-buahan – yang bawaannya pengen nambah berkali-kali  dan untungnya tanpa berantem karena stok banyak. Selain makan besar 3 kali sehari, di antaranya ada camilan hangat dan aneka jus buah, ditambah lagi unlimited kopi, teh, dan susu coklat. Ah, nikmaat!

Bobo siang di lounge (pic by Juni)

Selain diving dan makan, barulah acara main. Nah, itulah untungnya pergi dengan teman-teman sendiri yang sealiran. Adaa aja yang dikerjain di kapal: ngobrol ngalor-ngidul, cela-celaan, sesi foto ala foto model, nonton DVD bareng, gitaran, nyanyi bareng, main tebak lagu, permainan tanpa kartu ala bule dan Jepang, dan lain-lain. Kadang kami malah bobo siang bareng di sofa lounge, saking nggak mau terpisahkan. Buku tebal yang sudah saya bawa pun tidak tamat karena keasikan kongkow. Soal ngobrol, tentu nggak ngomongin soal divingsama sekali. Malah cenderung bikin gosip nggak penting. Maklum, seminggu di kapal 4L (lu lagi lu lagi) yang isinya 80% jomblo kan lama-lama kelihatan siapa yang lagi mojok sama siapa. Uhuy! #nomention

Permainan air! (pic by Rini)

Alam bawah laut Raja Ampat memang luar biasa, tapi pemandangan atasnya lebih luar biasa lagi! Inilah godaan terbesar saya tiap hari: mending divingatau main di pantai? Akhirnya saya berhasil ikut 80% dari seluruh jadwal diving sih. Abis, gimana nggak ngiler ketika melewati ratusan pulau dan pantai pasir putih cantik? Begitu tidak ada jadwal diving dan kapal pas berhenti, yang dicari adalah pantai terdekat, lalu kami minta diantar pake speed boat. Bahkan kalau tidak sempat, kami nyebur langsung dari atas kapal. Permainan kami di pantai juga tak kalah seru, mulai dari lomba gaya lompat dari boat, lama-lamaan hand stand di air, lomba berenang, sampai main perang-perangan sambil gendong-gendongan. Motret pun makin ngaco. Gaya lompat sudah biasa, kami foto bawah laut ala sampul kaset Nevermind-nya Nirvana, bahkan foto pantat bugil berjejer. Bosan main, kami berenang atau berjemur..  sampai dijemput lagi untuk makan malam!

Kalau Anda lihat foto-foto Raja Ampat, sebagian besar fotonya adalahaerial view dari sekumpulan pulau berbukit dan laut begradasi biru. Itulah yang disebut Wayag. Lokasinya paling jauh di Kabupaten Raja Ampat, kapal LOB ini aja memakan waktu 17 jam dari Sorong ke Wayag kalau direct. Untungnya nyewa kapal sendiri ya bisa menentukan rute dan saya tidak menyiakan kesempatan ini. Ternyata untuk sampai ke view point itu, kita harus naik ke puncak bukit yang terjal dan berbatu runcing. Di pagi mendung itu dengan memakai booties untuk diving, perlahan kami memanjat. Wedeh, medannya sulit bener: dengkul sampai di kepala, kepala sampai di dengkul ! Sampai di puncak, terbayar dengan pemandangan spektakuler itu! Gila, kereeen banget! Kembali ke bawah, dilanjutkan dengan keliling pulau-pulau naik speed boat sambil sesekali nyebur di lagun.

Happy New Year!

Puncaknya adalah perayaan tahun baru 2012 di tengah lautan. Meski baru jam 8 malam, rupanya para ABK sudah menghias tempat pesta, pasangspeaker, dan mulai berjoget dangdut. Juni menyumbang sebotol whisky mahal, sisanya beli bir dari kapal. Let’s get this party started! Di luar ternyata cuaca buruk, hujan superderas dan angin bertiup kencang sampai tempias dan kami semua basah. Beberapa kali kami terpleset saking licinnya lantai, dan suara Om Joni yangcontrol freak itu terus menggema, “Hati-hati licin! Awas jatuh!” Tiap orang pun jadi DJ, muterin lagu dari iPod masing-masing. Bosan dengan lagu disko, ganti ke suffle danceballroom dance,sexy dancepole dance di tiang tenda, poco-poco, karaoke, bahkan bikin video klip sendiri dengan menggunakan lampu torch diving sebagai lighting. Kapal LOB bule yang tadinya parkir di sebelah kami langsung pergi menjauh saking berisiknya kami ketawa ngakak dan lagu jedar-jeder. Detik hitungcount down ditutup dengan suara klakson keras dari Kapten kapal dan sulutan petasan. Kami pun saling berpelukan mengucapkan selamat. Sungguh perayaan Tahun Baru terbaik yang pernah saya alami!

Hari ke-7 kami dipulangkan ke hotel di Sorong. Baru pertama kali itu saya merasakan bumi miring! Ya ampun, setiap jalan saya berasa jalannya miring, setiap duduk berasa mejanya miring, setiap tidur saya pegangan ranjang takut jatoh.Weh, ini toh rasanya seminggu di kapal goyang, begitu turun ke daratan yang rata, sayanya yang jadi miring selama dua hari penuh!

Tapi apakah Raja Ampat segitu doang? Naik kapal LOB seminggu itu tidak cukup untuk menjelajahi Raja Ampat. Saya masih ada 2 minggu lagi untuk menjelajah dan berenang lebih banyak!

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s